Sebaya tak berarti seraya

by - Februari 11, 2026

Setelah memikirkan judul bagaimana tulisan ini dimulai, ku ingin mengutarakan beberapa perasaan yang mengganjal, dalam hidup seberapa sering kamu berpindah tempat dan melebur dalam lingkungan baru?


Entah itu untuk menuntut ilmu atau untuk mencari uang melalui sebuah pekerjaan.


Ini unik sekaligus mengesankan, pada kesempatan ini aku berkesempatan mendapatkan teman yang rentan usianya bisa dikatakan sebaya dalam sebuah kontek lingkup pekerjaan yang sama, awalnya ku sangat merasa bersyukur dan bahagia karena pikir ku akan mudah berbaur bersama mereka, kecenderungan berasal dari generasi yang sama akan memudahkan kami membangun chemistry antar kami secara organik, tapi nyatanya tidak.


Beberapa tahun kebelakang, aku telah pergi dan mendatangi beberapa tempat yang sangat heterogen, baik dari perbedaan rentan usia, generasi, maupun suku. Itu semua benar-benar dapat membantu aku melihat bagaimana dunia yang luas ini bekerja, diversity to unity adalah kata yang cocok untuk menggambarkan semua rentetan pengalaman yang aku dapat selama bertemu mereka.


Tak sering juga aku bergaul dengan kalangan ibu-ibu atau bapak-bapak yaitu orang-orang yang rentan usianya di atasku, menganalisa bagaimana mereka berpikir dan bertindak. begitupun aku, bagaimana aku harus memperlakukan mereka dengan baik, meski dalam candaan tanpa harus melanggar sebuah lintasan bernama etika. 


Lalu, aku pun pernah pergi ke sebuah tempat, dimana lebih orang-orang disana didominasi oleh orang-orang yang rentan usianya lebih muda dariku, tak sedikit juga dari mereka yang membuatku takjub tentang bagaimana mereka berpikir, berkomunikasi dan berargumen, bagaimana mereka telah mengetahui hal-hal apa saja yang mereka inginkan di kehidupan ini, aku melihat bagaimana tekad dan mentalitas visioner yang mengalir dalam diri mereka. dan disini juga tak kudapati kesulitan bagaimana berbaur dengan mereka.


Namun sekarang berbeda, kini aku berada dilingkungan yang sama sekali tak dapat ku uraikan dengan benar, lebih tepatnya aku sama sekali tidak mengerti tentang kecenderungan diantara kami, usia kami mungkin hanya terpaut 1 atau 2 tahun. sebagai seseorang yang dilabeli “social butterfly” oleh sahabat dan orang-orang terdekatku,  aku akan memilih meng cut mereka semua.


Sejujurnya.. bagaimana mungkin kamu harus selalu memulai sebuah percakapan agar terjadi sebuah obrolan


Bagaimana mungkin aku harus selalu menyesuaikan dengan mood mereka yang naik turun seperti para cewek yang sedang menstruasi hari kedua


Kupikir aku sedang tidak memohon agar seseorang mau berteman denganku, pernah suatu ketika aku merasa sedang tidak enak badan, dan memakai jaket seharian, namun tak ada seorang pun yang memulai sebuah pertanyaan dengan kalimat awal “mengapa”. bahkan dalam banyaknya hari yang selalu kami lewati, percakapan memang sesuatu yang langka dan jarang dilakukan.


aku juga sedang tidak fakir perhatian, dalam ruangan kecil yang hanya diisi oleh 5-7 orang ini, sebagai sebuah makhluk yang bernama manusia mereka benar-benar sangat abai.


Aneh bukan, abnormal lebih tepatnya… sejak awal hingga saat ini, tak kudapati juga alasan baik untuk tetap terhubung dengan mereka, tidak untuk hal apapun.


kini, satu-satunya cara dalam hal merespon keadaan tsb adalah dengan bersikap acuh dan abai juga,  bersikap adaptif dan mirroring lebih tepatnya.


dari pada menyebutnya sebuah penderitaan, mungkin ini proses balancing dari akumulasi  sebuah pertemanan baik yang telah banyak kuterima dimasa lalu.



You May Also Like

0 komentar

FOR THE RECOGNITION (?)

It's not love letter!!!

POPULAR POSTS